Bagaimana Seseorang Terbebas dari Kekerasan Hati?

Tinggalkan komentar

Pertanyaan :

Bagaimana manusia terbebas dari kekerasan hati dan apakah sebab-sebabnya ?

Jawaban :

Sebab-sebab kekerasan hati ialah dosa, kemaksiatan, sering lalai dan bergaul dengan orang-orang yang lalai dan orang-orang yang fasiq. Semua kekerasan ini merupakan sebab-sebab kekerasan hati.

Sementara yang menyebabkan hati menjadi lunak, bersih dan tentram ialah mentaati Allah Subhanahu Wata’ala, berteman dengan orang-orang yang baik dan memelihara waktunya dengan dzikir, membaca al-Qur’an dan istighfar. Siapa yang memelihara waktunya dengan dzikir kepada Allah, membaca al-Qur’an, bergaul dengan orang-orang yang baik dan menjauhi bergaul dengan orang-orang yang lalai dan orang-orang yang jahat, maka hatinya menjadi baik dan lunak. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“…hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

[Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, hal. 244, Syaikh Ibn Baz]

Maroji’:

Fatwa-Fatwa Terkini, jilid 3, hal: 573-574, cet: Darul Haq Jakarta,www.alsofwah.or.id

Sang Penyejuk Hati (4)

Tinggalkan komentar

 Membaca Al-Qur`an adalah merupakan salah satu bentuk teragung dalam bertaqarrub [mendekatkan diri] kepada Allah Ta’ala dan juga merupakan jalan untuk menuju pada kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Ibnu Shalah Rahimahullah berkata, ‘Membaca Al-Qur`an adalah kemuliaan, dengan kemulian itu Allah hendak memuliakan manusia. Bahkan, malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka justru selalu berusaha mendengarkannya dari bacaan manusia.’ [Al-Itqân Fi Ulumil Qur`an oleh As-Suyûti h. 291]

 Membaca yang dapat mendatangkan kemuliaan, yang dapat mendatangkan faedah dan pahala yang besar adalah membaca dengan memperhatikan dan mengamalkan etika-etika didalam membacanya. Sedang membaca tanpa memperdulikan atau mengabaikan etika-etikanya, tidak memperhatikan aturan serta hak-haknya kemudian tidak memenuhi tuntunan-tuntunan yang terkadung didalamnya maka kelak Al-Qur`an akan menjadi bukti yang membinasakan diri kita atau menjadi musuh di hari kiamat. Rasulullah Sallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Al-Qur`an itu merupakan hujjah [bukti] yang menguntungkanmu atau merugikanmu.’[HR. Muslim 223]

Adab-adab membaca dan mempelajari Al Qur’an
      Para ulama telah mengkhususkan beberapa kitab yang membahas tentang etika membaca Al-Qur`an secara detail [Seperti kitab At-Tibyân Fi Adabi Hamlatil Qur`an karya imam An-Nawawi dan Al-Itqân Fi ‘Ulûmil Qur`an]. Akan tetapi, kami di sini hanya akan menunjukkan sebagiannya saja untuk diambil manfaatnya:

1. Ikhlash
      Ikhlash bermakna mencari ridha dan ganjaran dari Allah Ta’ala dengan meniadakan tujuan-tujuan yang lain. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah mengisahkan tiga orang yang masuk neraka karena sebab amalan mereka, diantaranya seseorang yang menutut ilmu dan membaca Al-Qur`an, pada hari akhir dia ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Apa yang kamu kerjakan di dunia dengan nikmat tersebut ?’ orang tersebut menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan membaca Al-Qur`an hanya karena-Mu ya Allah.’ Allah kemudian berkata, ‘Engkau dusta! Sesungguhnya engkau menuntut ilmu agar dikatakan orang alim dan engkau membaca Al- Qur’an agar dikatakan qâri (ahli membaca Al Qur’an).’ [HR. Muslim no 1905]

2. Mengamalkannya
      Al-Qur’an diturunkan bukan sekedar untuk dibaca tanpa ilmu dan amal. Ia mesti diamalkan, ia harus di jadikan petunjuk pada setiap kebajikan dan akhlak yang mulia. Fudhail bin ‘Iyyâd berkata, ‘Al-Qur`an itu diturunkan hanyalah untuk diamalkan maka hendaklah manusia menjadikan bacaan Al-Qur`an untuk diamalkan.’ [Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Akhlaq Hamlah Al-Qur`an, h. 43]. Abu Abdur Rahman As Sulami berkata, ‘Dahulu para sahabat Nabi yang mengajarkan kami Al Qur’an semisal Utsman bin Affân, Abdullah bin Mas’ud dan lainnya Radhiyallahu Anhum. Mereka jika belajar 10 ayat, tidak pindah hingga mengamalkannya, mereka mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an secara bersamaan. [Syarah Muqaddimah Tafsir hal 22 karya Syaikh Ibnu Utsaimin]
      Bahkan terdapat ancaman bagi orang yang enggan mengamalkannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab Radhiyallâhu Anhu, bahwasannya Rasulullah Sallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawaku ke tempat Al Ardh Al Muqaddasah (diceritakan dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah mendapati peristiwa demi peristiwa-red.) hingga kami menjumpai seseorang yang dipecah kepalanya dengan batu besar……..hingga beliau bersabda, ‘kalian berdua telah membawaku berkeliling, maka jelaskanlah kepadaku peristiwa-peristiwa tersebut!’. Kedua laki-laki itu berkata :’……adapun orang yang dipecah kepalanya dengan batu besar adalah orang yang Allah ajarkan Al Qur’an, akan tetapi dia bermalas-malasan dengan tidur diwaktu malam dan tidak mengamalkannya di waktu siang’.” [HR. Al-Bukhari no 1386]

3. Merenungi Kandungan Maknanya
      Hendaklah orang yang membaca Al-Qur`an itu berkeinginan untuk memahami tuntutan Allah. Bukan berkeinginan kapan saya selesai membaca surat itu, tetapi berkeinginanlah kapan saya fokus kepada Allah? Kapan saya termasuk orang yang bertakwa? Kapan saya termasuk orang yang gemar bersedekah? Kapan saya termasuk orang yang khusyuk? Kapan saya termasuk orang yang jujur? Demikian pula, kapan saya mengerti akan nikmat Allah yang melimpah? Kapan saya bersyukur kepada-Nya? Kapan saya bertobat dari segala dosa? Kapan saya berpikir tentang perintah-perintah Allah? Kapan saya mengerti dengan yang saya baca? Kapan saya menjadikan Al-Qur`an sebagai teladan? Seperti itulah seharusnya diperbuat oleh orang-orang ketika membaca Al-Qur`an. Allah Ta’ala berfirman, ‘Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci ?” [QS. Muhammad :24]
Al-Ajurri rahimahullah berkata, ‘Orang mukmin yang berfikir jika membaca Al-Qur’an, ia berhenti sejenak; Al-Qur`an itu dijadikan laksana cermin guna melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari perbuatannya. Oleh karena itu, apa-apa yang diperingatkan oleh Rabb-nya, ia menerima peringatan itu, bila ditakuti dengan siksa, ia merasa takut, dan bila diberi kabar gembira, ia berharap serta penuh harap. Barangsiapa yang demikian ini menjadi sifatnya atau mirip sifatnya, sungguh ia telah membaca Al-Qur`an, sedang Al-Qur’an juga menjadi penolong, pelembut, dan benteng bagi dirinya. [Akhlaq Hamlah Al-Qur’an, h. 29]

4. Suci dari Hadats
      Sewaktu membaca Al-Qur`an hendaknya berada dalam keadaan suci, karena membaca Al-Qur`an adalah suatu bentuk dzikir yang paling utama. Dari Muhajir bin Qunfudz Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berwudhu. Namun beliau tidak menjawab salam tersebut hingga beliau selesai wudhu, lalu Nabi menjawabnya dan bersabda, ‘Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab (salam)mu, kecuali karena saya tidak suka menyebut Allah kecuali dalam keadaan suci.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 17, Ibnu Majah 37, An-Nasai 1/34.]
      Ini dari sisi keutamaan. Namun jika ada orang yang membaca Al-Qur`an dalam keadaan tidak suci, kita tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan hal itu telah berbuat sesuatu yang dilarang. karena tidak ada satu pun dalil yang shahih lagi sharih [jelas] yang melarang orang berhadats membaca atau menyentuh mushhaf Al-Qur`an. Hanya saja, dia telah meninggalkan sesuatu yang lebih utama.

5. Membaca Ta’awudz dan Basmalah
      Bila ingin memulai membaca, disyariatkan untuk membaca ta’awudz, ‘A’udzu Bilâhi Minas Syaithânir Rajîm.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” [QS. An Nahl : 98] Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, ‘Faidah ta’awudz yaitu agar syaithan menjauh dari hati orang yang akan membaca Al Qur’an. Dengan demikian , maka orang tersebut akan dapat memahami, memperhatikan ayat-ayatnya dan mengambil manfaat darinya, karena sudah tentu berbeda antara orang yang membaca dengan menghadirkan hati dan oarng yang membaca sedangkan hatinya lalai [Syarah mumti’ 3/371]. Dan sebaiknya selalu menjaga bacaan, ‘Bismillâhirrahmânirrahîm’ di awal bacaan setiap surat, selain surat Bara`ah [At-Taubah]

6. Tartil ketika membaca Al Qur’an
       Para ulama sepakat tentang disunnahkannya membaca Al-Qur`an dengan tartil [pelan-pelan], berdasarkan firman Allah Ta’ala , ‘Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.’ [QS. Al Muzammil :4] Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, ‘Bacalah perlahan-lahan’ karena itu dapat membantu dalam memahami Al Qur’an dan merenunginya.’ [Tafsir Qur’an Adzim 4/392]. Ibnu Abbas berkata, ‘Membaca satu surat dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca AlQur’an seluruhnya dengan cepat.’ [At Tibyan, hal 70]

7. Memperindah dan memperbagus suara
      Disunnahkan memperindah suara dalam membaca, selagi tidak keluar dari batas bacaan dengan memanjang-manjangkannya. Apabila keluar, hingga menambahi satu huruf atau menyamarkannya, haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al Qur’an.’ [HR Al-Bukhari 7527]
Perlu diperhatikan bahwa memperbagus bacaan dan memperindah suara ketika membaca Al Qur’an bukan berarti mengalunkannya seperti lagu dan nyanyian. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, ‘Membaca Al Qur’an dengan mengalunkannya seperti lagu adalah makruh, perbuatan yang diada-adakan sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Malik , Syafi’I, Ahmad dan lainnya .’ [Adab Syar’iyah 2/302 oleh Ibnu Muflih]

8. Menangis ketika Membaca Al Qur’an atau Mendengarnya
      Imam An Nawawi Rahimahullah berkata, ‘Menangis ketika membaca Al Qur’an merupakan sifat orang yang berpengetahuan dan syi’ar hamba-hambanya yang shalih.’ [At Tibyan, hal 68]
Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Rasulullah pernah berkata kepadaku, ‘Bacakanlah Al Qur’an untukku!,’ aku bertanya, ’Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakannya padahal Al Qur’an itu diturunkan kepadamu’, Rasulullah menjawab, ’benar!’, maka akupun membaca surat An Nisa’ hingga sampai pada ayat, ‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap ummat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” [QS An Nisa’ :41]. Rasulullah pun berkata, ’Cukup !’ Dan aku melihat kedua matanya meneteskan air mata.’ [HR. Bukhari 5050]

9. Mengeraskan Suara
      Mengeraskan suara ketika membaca Al Qur’an lebih utama dibandingkan melirihkannya, asalkan aman dari riya’ dan tidak mengganggu orang yang ada disekitarnya. Sebab, bacaan yang keras bisa membangkitkan hati, mengukuhkan semangat dan mengarahkan pendengaran agar mau memikirkan bacaannya. Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallâm bersabda, ‘Allah tidak memperkenankan sesuatu,, yang diperkenankan kepada Nabi, (kecuali) bacaan Al-Qur`an dengan suara yang bagus lagi keras.’ [HR. Al-Bukhari 7544]

10. Tidak membaca pada situasi dan kondisi tertentu
      Dalam kondisi-kondisi tertentu seseorang tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an. Antara lain ketika sedang ruku’ dan sujud di dalam shalat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur`an saat ruku’ dan sujud.’ [HR. Muslim]. Tidak diperbolehkan juga membaca dalam keadaan mengantuk, serta membaca pada saat mendengarkan khutbah Jumat.

11. Tidak bersenda gurau saat membaca
      Seseorang wajib memperhatikan kemulian Al-Qur`an dan keagungannya dengan tidak bermain-main pada saat membaca, semisal dengan tertawa, ramai, debat atau gurauan. Berdasarkan dengan firman Allah Ta’ala, ‘Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.’ [QS. Al-A’raf 209]

12. Sujud ketika membaca ayat Sajdah
Disunnahkan untuk sujud ketika membaca ayat-ayat sajdah, sujud ini biasa dikenal dengan nama sujud Tilawah [Tentang tempat-tempat sujud tilawah berikut dengan tatacaranya silahkan merujuk ke Buletin Al-Ikhlash edisi 23]. Kemudian hendaknya berdo’a ketika sujud tilawah dengan do’a yang diajarkan Nabi diantaranya :
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَسَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللّهُ أَحْسَنَ الخَالِقِيْنَ .
Artinya, ‘Telah sujud wajahku kepada (Rabb) yang telah menciptakannya dan telah membuka penglihatan dan pendengarannya berkat upaya dan kekuatannya, maka Mahamulia Allah, sebaik-baik pencipta.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1414, At-Tirmidzi 579 dan An-Nasai 11/222]

13. Memutuskan bacaan Al-Quran
      Bila salah seorang memberi salam kepadanya, sementara orang tersebut sedang membaca, sebaiknya dia menghentikan bacaannya, lalu menjawab salam orang tersebut. Bila orang lain bersih, lalu mengucapkan, ‘Al-Hamdulillah’ sementara dia membaca diluar shalat, maka dia harus mengucapkan, ‘Rahimakallah’. Bila orang yang membaca Al-Qur`an itu mendengarkan adzan, maka dia harus menghentikan bacaannya dan menjawab adzan sang mu`adzdzin tersebut.’

14. Batas waktu menghatamkan Al Qur’an
      Mengkhatamkan Al-Qur’an disesuaikan kondisi masing-masing orang, dengan syarat tidak boleh kurang dari 3 hari, karena orang yang menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari tidak akan dapat memahaminya dan mentadabburinya. Dari Abdullah bin Amr, bahwasannya Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak memahami makna Al-Qur`an orang yang mengkhatamkannya kurang dari tiga hari.’[Shahih. HR. Abu Dawud 1394]
Namun dalam kitab Al-Adzkar [hal.153], Imam An-Nawawi menyebutkan ada sebagian salaf yang mengkhatamkan Al-Qur`an kurang dari tiga hari, diantaranya Utsman Bin Affan, Tamim Ad-Dâri dan Sa’id bin Jubair. Tentang ini, Asy-Syaikh Al-Albâni menanggapi, ‘Adapun yang dilakukan oleh sebagian salaf yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, tidaklah bertentangan dengan hadits yang mulia ini [yaitu hadits larangan meng-khatam kurang dari tiga hari]! karena bisa jadi hadits ini belum sampai pada mereka.’ [Ash Shahihah 5/601]

15. Ancaman bagi yang berpaling dari Al Qur’an
      Telah datang sejumlah ayat yang berisi ancaman bagi orang yang berpaling dari Al Qur’an, diantaranya, ‘Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ [QS Thoha : 124]

Bid’ah para Qâri
Diantara bid’ah yang dilakukan oleh sebagian qâri’ adalah sebagai berikut;
1. Membaca Al-Qur’an dengan melagu-lagukannya [Lihat Al-Hawâdits wal Bid’ah oleh Ath-Thurthusi h.83-89 dan lihat keterangannya pada point 7 tentang makna melagukan yang terlarang]
2. Membaca Al-Qur`an dengan berbagai bentuk lagu semisal; Bayâthi, Hijaz, Nabathi, dan Rumi. [Lihat Al-Hawâdits wal Bid’ah oleh Ath-Thurthusi h.86]
3. Membaca Al-Qur’an dengan lagu ahli fasik dan keji. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 11]
4. Membaca Al-Qur`an dengan cepat-cepar sehingga tidak dipraktikkan tajwid dan makhraj yang tepat. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 15]
5. Meletakkan jari tangan pada sebelah telinga atau keduanya saat membaca Al-Qur`an. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 26]
6. Membaca Al-Qur`an secara bersama-sama dengan satu nada dan tempo. [Bida’ Al-Qurra` oleh Muhammad Musa hl. 38-39]
7. Membaca Al-Qur`an dihadapan laki-laki yang bukan mahram pada acara-acara tertentu. [Mu’jamul Bid’i]
8. Membaca shadaqallâhul Adzim seusai membaca Al-Qur`an [Lihat Buletin Al-Ikhlash edisi 123]

-Ummu Shofiyyah-

 

Maroji’:

http://bejanasunnah.wordpress.com/2010/12/14/adab-membaca-al-quran/

Sang Penyejuk Hati (3)

Tinggalkan komentar

Sifat-sifat Al Qur’an

1. Sebagai cahaya yang terang

Tanpa Al Qur’an tidak akan tau yang baik dan buruk. (dalil: lihat surat An Nisa ayat 174)

2. Sebagau Asy Syifa’ (obat/penawar dan rahmat)

Sifat ini menandakan bahwa al Qur’an dapat dijadiakan sebagai obat/penawar yaitu ruqyah. (dall: lihat surat Al Isra’ ayat 82)

3. Sebagai petunjuk

Contoh sifat ini yaitu ayat dalam surat Thoha yang dapat menggetarkan hati Umar bin Khattab sehingga masuk Islam. (dalil: lihat surat Fushilat ayat 44)

4. Sebagai nasehat

banyak sekali ayat-ayat di dalam al Qur’an yang berisi tentang nasehat, baik untuk urusan dunia maupun akhirat.

Keutamaan membaca Al Qur’an

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ . سورة فاطر أية 29-30

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (Surat Fathir ayat 29 –30 )

Sabda Rasulullaah SAW :
عن عثمان بن عفان رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير كم من تعلم القرآن وعلمه رواه البخاري.
Dari Utsman bin Affan (yang semoga Allaah meridhoinya) berkata: Telah bersabda Rasulullaah : “Sebaik-baik (manusia di antara) kalian adalah ia yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya “ HR Bukhary

عن عائشة رضى الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الذي يقرأ القرآن وهو ماهر به مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن وهو يتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران
رواه البخاري ومسلم

Dari Ummul Mukminin Aisyah semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Telah bersabda Rasulullaah : “Orang yang membaca Al Qur’an dengan mahir ia bersama malaikat yang mulia sedang orang yang membaca AL Qur’an dengan terbata-bata karena berat atau susah, maka ia mendapat dua pahala.” Riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim.

عن أبي موسى الأشعري رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مثل المؤمن الذي يقرأ القرآن مثل الأترجة ريحها طيب وطعمها طيب ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القرآن مثل التمرة لا ريح لها وطعمها طيب حلو ، ومثل المنافق الذي يقرأ القرآن مثل الريحانة ريحها طيب وطعمها مر ، ومثل المنافق الذي لا يقرأ القرآن كمثل الحنظلة ليس لها ريح وطعمها مر
رواه البخاري ومسل

Dari Abu Musa Al Asy’ari semoga Allaah meridhoinya berkata : telah bersabda Rasulullaah : “Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al Qur’an seperti Ar Rojah baunya harum rasanya lezat, dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al Qur’an seperti Tamroh tidak ada baunya tetapi rasanya manis. Sedang perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an separti Rihanah, baunya harum tetapi rasanya pahit, sedang orang munagiq yang tidak membaca Al Qur’an seperti Handholah, tidak ada baunya dan pahit rasanya” HR Bukhary dan Muslim

عن ابن عمر ابن الخطاب رضى الله عنهما أن النبي قال : لا حسد إلا في اثنتين : رجل آتاه الله القرآن فهو يقوم به أناء الليل وأناء النهار ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه أناء الليل وأناء النهار
رواه البخاري ومسلم.

Dari Ibnu Umar semoga Allaah meridhoi keduanya bahwasanya Nabi Muhammad bersabda: “Tidak boleh berhasad kecuali terhadap dua hal; yaitu orang yang diberi Allaah kefahaman terhadap Al Qur’an dan ia mengamalkannya siang malam dan orang yang diberi oleh Allaah harta dan ia menginfaqkannya siang malam” HR Bukhary dan Muslim

عن أبي أمامة الباهلي قال : سمعت رسول الله يقول : اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه (رواه مسلم.
Dari Abu Umamah Al Bahiily, yang semoga Allaah meridhoinya, ia telah berkata: Aku mendengar Rasulullaah bersabda: “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang pada hari Qiamat sebagai penolong bagi pembacanya”. HR Muslim

عن عبد الله بن مسعود قال : قال رسول الله : من قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله حسنة والحسنة بعشر أمثالها ، لا أقول الم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف ميم حرف.
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Dari Abdullaah bin Mas’ud ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah : “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur’an), maka ia mendapatkan kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih.
عن ابن عباس قال : قال رسول الله :إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب
رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Dari sahabat Abdullah bin Abbas , ia berkata: Telah bersabda Rasulullaah : “Sesungguhnya orang yang di dalam hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an maka orang itu bagaikan rumah yang hancur.” HR At Turmudzi dan beliau berkata hadits ini hasan shohih

وعن عمر ابن الخطاب أن النبي قال : إن الله تعالى يرفع بهذا الكلام أقواما ويضع به آخرين. رواه مسلم

Dari Umar bin Al Khottoby bahwasanya Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allaah Ta’ala meninggikan atau merendahkan derajat suatu kaum dengan Al Qur’an” HR Imam Muslim.

عن معاذ بن أنس أن رسول الله قال : من قرأ القرآن وعمل بما فيه ألبس الله والديه تاجا يوم القيامة ضوؤه أحسن من ضوء الشمس في بيوت الدنيا فما ظنكم بالذي عمل بـهذا ( رواه أبو داود

Dari Mu’adz bin Anas semoga Allaah meridhoinya bahwasanya Rasulullaah bersabda: “Barang siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya apa -apa yang ada di dalamnya Allaah akan memakaikan bapaknya sebuah mahkota pada hari Qiamat yang cahayanya lebih terang dari sinar matahari di dunia ini, terlebih lagi dengan yang melakukannya? HR Imam Abu Dawud

عن أبي سعيد ألخدري رضي الله عنه عن النبي قال : فضل كلام الله سبحانه وتعالى على سائر الكلام كفضل الله سبحانه وتعالى على خلقه رواه الترمذي وقال: حديث حسن

Dari Abu Sa’id Al Khudriy , bahwasanya Nabi bersabda: “Keutamaan Kalamullaah (Al Qur’an) dibandingkan dengan selainnya ialah seperti keutamaan Allaah dibanding seluruh makhluqnya“ HR. Imam At Turmudzy dan beliau berkata hadits ini hasan.

bersambung, insyaallah..

-Ummu Shofiyyah-

 

Maroji’:

1. Catatan pribadi dari Dars ‘Ulumul Qur’an’

2. Kitab At Tibyan Fii Adaabi Hamalatil Qur’an lil Imam An Nawawi rohimahulloh

Sang Penyejuk Hati (2)

Tinggalkan komentar

Allah Ta’ala memberikan beberapa nama yang agung dan layak terhadap al-Qur’an, yaitu nama yang sesuai dengan kedudukan al-Qur’an itu sendiri yang mengesankan akan keagungannya.

Nama-nama tersebut berisi kandungan al-Qur’an, yaitu berupa rahasia-rahasia yang indah, tujuan yang mulia dan Maqâshid yang agung, hikmah-hikmah yang bijak, kisah-kisah yang mengagumkan serta hukum-hukum yang valid.

Nama-nama yang indah tersebut menunjukkan secara gamblang akan kemuliaan dan kedudukannya yang tinggi, nama-nama yang mengandung hujjah dan dalil bahwa ia adalah kitab Samâwiy, tidak ada dan tidak akan ada yang pernah dapat menyainginya. Nama-nama yang demikian menarik dan berisi semua yang enak dan baik untuk dinikmati.

Allah Ta’ala memberikan nama-nama yang bervariasi tersebut berbeda sama sekali dan tidak seperti nama yang biasa diberikan dan didengar oleh orang-orang Arab dalam pembicaraan mereka, baik secara global maupun terperinci. Secara global ia dinamai Kitab atau Qur’an. Dan secara terperinci dan terpisah juga dinamai dengan surat, ayat dan Kalimât.

Imam as-Suyuthiy sebagai yang dinukilnya dari al-Jâhizh berkata, “Allah Ta’ala memberikan sebutan bagi Kitab-Nya berbeda dengan sebutan yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab dalam pembicaraan-pembicaraan mereka baik secara global maupun terperinci. Dia menyebutnya secara global sebagai Qur’an seperti makna Dîwân (koleksi yang memuat sya’ir-red.,) dan sebagiannya sebagai Surat seperti makna Qashîdah (bagian dari sya’ir-red.,), sebagian dari Surat tersebut sebagai Ayat seperti makna Bait dan akhir ayat sebagai Fâshilah seperti makna Qâfiah…”

Yang dimaksud oleh Imam As-Suyuthiy adalah bahwa kata al-Qur’an, Surat, Ayat dan Fâshilah tidak dikenal oleh orang-orang Arab sebelumnya, demikian juga penggunaannya. Orang-orang Arab hanya mengenal kata Dîwân yang sepadan dengan makna al-Qur’an;Qashîdah sepadan dengan kataSurat ; Bait sepadan dengan kata Ayat dan Fâshilah sepadan dengan kata Qâfiah.

Nama-Nama al-Qur’an

Diantara nama-nama al-Qur’an tersebut adalah:
1. Tanzîl ( تنزيل )

Allah menamainya dengan Tanzîl dan Munzal karena maknanya adalah yang diturunkan . Jadi, Dia-lah yang menurunkannya kepada Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam melalui perantaraan Jibril, karenanya pula ia bukan sihir, olah pertenungan ataupun dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.
Penamaan dengan Tanzîl dan Munzal ini terdapat dalam 142 tempat di dalam al-Qur’an, dan penamaannya dengan Tanzîl adalah termasuk yang paling masyhur.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s. Luqman:21 ; Muhammad: 2, 26 ; Saba`:6 ; Fushshilat:42 ; al-Hâqqah:43 ; al-Mâ`idah:44.

2. Ayât (آيات )

Ayat-ayat Allah terdiri dari dua jenis; ayat-ayat yang dibaca dan didengar, yaitu al-Qur’an dan ayat-ayat yang disaksikan, yaitu makhluk-makhluk Allah.
Allah menamai kitab-Nya dengan Ayât dalam 130 tempat di dalam al-Qur’an. Tentunya, tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur’an al-’Aziz adalah Ayât (tanda-tanda) yang jelas dan amat gamblang petunjuknya, membawa bukti yang jelas, yang tidak ada kesamaran di dalamnya. Ayat-ayat yang agung dan lugas, yang merupakan sumber dari segala sumber hukum.
Penamaan al-Qur’an dengan Ayât juga termasuk diantara nama-nama yang paling masyhur.
Diantaranya dapat dilihat pada Q.,s.al-’Ankabût:23 ; ar-Rûm:53 ; al-Hadîd:9 ; al-Jâtsiyah:6,8,9 ; al-Ahqâf:7.

3. Kitâb (كتاب )

Penamaan al-Qur’an dengan Kitâb terdapat dalam 74 tempat di dalam al-Qur’an. Secara bahasa makna al-Kitâb adalah al-Jam’u (kumpulan; himpunan; koleksi). Allah menamai wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya sebagai Kitâb karena ia mencakup surat-surat, ayat-ayat, huruf-huruf dan kalimat-kalimat. Juga karena ia menghimpun/mengoleksi berbagai ilmu, berita dan hukum.
Diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. al-’Ankabût:47,48, 51 ; al-Baqarah:2 ; Fâthir:29 ; az-Zumar:1; Fushshilat:3 .

4. Qur`ân (قرآن )

Ini merupakan nama yang paling masyhur dan penamaannya terdapat dalam 73 tempat di dalam al-Qur’an.
Dari sisi bahasa makna kata Qur`ân adalah yang dibaca, karena ia dibaca dan makna yang lebih khusus lagi adalah suatu nama (sebutan) bagi Kalam yang mengandung mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam .
Penamaan seperti ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. an-Nisâ`:82 ; al-Isrâ`: 9, 41, 82, 88 ; Yûnûs;37 ; Yûsuf:3 .

5. Haqq (حق )

Allah menamai al-Qur’an dengan al-Haqq dalam 61 ayat di dalam al-Qur’an. Al-Haqq artinya secara bahasa al-’Adl wal Inshâf (keadilan dan sikap menengah). Dalam ucapan orang Arab, kata al-Haqq adalah antonim dari kata al-Bâthil (kebatilan).
Allah adalah Haqq, Rasul-Nya adalah Haqq, al-Qur’an adalah Haqq sementara yang haq itu berhak untuk diikuti.
Penamaan seperti ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s.Yûnus: 84, 108 ; an-Nisâ`:170 ; al-Mâ`idah: 83, 84 ; al-An’âm: 5 ; Hûd: 17 .

6. Tadzkirah dan Dzikrâ (تذكرة و ذكرى )

Penamaan dengan Tadzkirah dan Dzikrâ terdapat dalam 55 tempat di dalam al-Qur’an, atau bisa lebih dari itu.
Tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur’an al-’Aziz merupakan Dzikr dan Tadzkîr , yaitu ia merupakan Dzikr itu sendiri bahkan termasuk Dzikr yang paling afdlal (utama). Membaca al-Qur’an merupakan seutama-utama hal yang dapat mengingatkan (menyadarkan) orang-orang yang berdzikir kepada Allah.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. al-Hijr:6,9; Fushshilat:41 ; al-Anbiyâ`:50 ; Shâd: 8, 29 ; Thâhâ: 3 .

7. Wahyu (وحي )

Penamaan dengan nama ini terdapat dalam 45 ayat di dalam al-Qur’an. Tentunya, tidak diragukan lagi bahwa al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala. Ia adalah wahyu dimana Allah berbicara dengan sebenarnya, ia bukan sihir, olah pertenungan, bukan ucapan yang didustakan dan bukan pula dongeng-dongeng orang-orang terdahulu sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang kafir Quraisy, ia bukan pula makhluq seperti yang dikatakan oleh golongan Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Ia bukan hikayat dari Kalam Allah sebagaimana yang diklaim oleh golongan al-Kullâbiyyah.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s.an-Najm: 4, 10 ; Yûnus:2 ; az-Zukhruf:43 ; al-Ahzâb: 2 ; al-Anbiyâ`: 108 .

8. Huda (هدى )

Maknanya adalah petunjuk dan terdapat dalam 47 tempat. Kata al-Huda secara bahasa adalah al-Bayân (penjelasan) atau at-Tawfîq.
Tentunya tidak dapat disangkal lagi bahwa al-Qur’an adalah Huda (penjelasan, petunjuk) dari kesesatan dan kebutaan. Ia adalah petunjuk secara hakikat dan makna, ia adalah petunjuk dari kekufuran dan kemunafikan, dari kezhaliman dan tindakan melampaui batas, dari kebingungan dan ketakutan serta petunjuk dari segala hal yang menyimpang dan dapat menjerumuskan.
Memang al-Qur’an adalah petunjuk dan realitas mendukung hal itu. Buktinya, banyak sekali manusia – mencapai juta-an – mendapatkan petunjuknya dengan penuh sukarela, tanpa unsur paksaan karena keistimewaan Islam itu sendiri.
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. an-Nahl:89 ; al-Qashash:85 ; at-Tawbah:33 ; al-Kahfi: 55; al-Baqarah:97 ; al-Fath:28 ; Ali’Imrân:138 .

9. Shirâth Mustaqîm (صراط مستقيم )

Penamaan dengan ini terdapat dalam 33 tempat di dalam al-Qur’an. Kata ash-Shirâth artinya jalan yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang diinginkan, sedangkan kata al-Mustaqîm artinya yang tidak ada kepincangan sedikitpun.
I bn Jarir berkata, “Umat dari kalangan Ahli Tafsir sepakat bahwa makna ash-Shirât al-Mustaqîm adalah jalan yang jelas yang tidak ada kepincangan sedikitpun. Dan makna ini digunakan dalam percakapan Bangsa Arab.”
Penamaan ini dapat dilihat pada Q.,s. al-Fâtihah: 6 ; al-An’âm:153 ; al-An’âm:126 ; Yûnus:25 ; Ali’Imran:101 ; al-Mâ`idah:16 ; al-Hajj:54 .

10. Tibyân dan Bayyinât (تبيان و بينات )

Al-Qur’an juga dinamakan dengan Tibyân, Mubîn dan Bayyinât dan penamaan ini terdapat dalam 30 tempat di dalam al-Qur’an. Jumlah ini bisa jadi lebih dari itu.
Al-Qur’an adalah petunjuk dan obat, yang di dalamnya terdapat Bayân (penjelasan) yang amat jelas sekali ; jelas maknanya dan kokoh tata-bahasanya, tidak ada kesamaran atau pun ketidakjelasan padanya.
Di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan bagi setiap hajat seluruh manusia di dalam kehidupan sosial mereka dengan ungkapan yang amat menawan dan gaya bahasa yang indah.
Penamaan ini diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. ash-Shaff:6; al-Baqarah: 159 ; an-Nûr: 34, 46 ; al-Ahqâf:7 ; al-Hijr:1 ; Ghâfir: 66.

11. Shidq, Tashdiq dan Mushaddiq (صدق،تصديق ومصدق)

Allah menamainya dengan Shidq (Kebenaran), Mushaddiq (Pembenar) dan Tashdîq (Pembenaran) dalam 22 ayat dari al-Qur’an.

Allah Ta’ala menyinggung perihal ash-Shidq, memerintahkannya, menganjurkan dan mensugestinya di dalam 109 tempat. Dalam hal ini, tidak dapat diragukan lagi bahwa al-Qur’an al-Karim adalah simbol kebenaran, sumber, landasannya serta yang mengajak berbuat kebenaran dan mensugestinya.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s. az-Zumar:32,33; Yûnûs:37; Yûsuf:111; al-Baqarah:97; al-Ahqâf:12; al-An’âm:115.

12. Mufashshal dan Fashl (مفصل وفصل)

Allah menamai al-Qur’an dengan Mufashshal (yang dijelaskan/terperinci) di dalam 18 ayat. Dalam hal ini, al-Qur’an terdiri dari surat-surat, ayat-ayat Muhkamât. Surat-surat meliputi ayat-ayat sementara ayat-ayat meliputi huruf dan kalimat. Semua itu telah dirinci oleh Allah di dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Karena telah menjelaskan dan memerinci, maka tidak ada lagi yang samar dan masih kabur di dalamnya. Jadi, ia bukan teka-teki ataupun simbol-simbol yang tanpa makna.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s.al-An’am:97,98; ath-Thâriq:13; al-A’râf:52,172; at-Tawbah:11; Fushshilat:3.

13. Hadîts (حديث)

Allah menamai al-Qur’an dengan Hadîts di dalam 15 ayat.
Makna Hadîts secara bahasa adalah khabar dan ucapan (omongan).
Disamping menamakannya demikian, Dia Ta’ala juga menamakannya Qîl (yang dikatakan/diucapkan).
Al-Qur’an merupakan ucapan dimana Allah berbicara di dalamnya dan berisi beragama hal yang membuat terpesona, semua nya indah, berupa hukum dan hikmah-hikmah, berita gembira ataupun menakutkan, janji dan ancaman..semua itu hanya lah demi kemaslhlahatan para hamba Allah. Semua nya berisi hidayah dan petunjuk..semuanya berisi ‘aqidah dan syari’ah.
Diantaranya, dapat dilihat pada Q.,s.az-Zumar:23; al-Jâtsiyah:6; ath-Thûr:34; al-Kahfi:6; an-Najm:59; al-Wâqi’ah:81; al-Mursalât:50.

14. Rahmah (رحمة)

Allah Ta’ala menamai al-Qur’an dengan Rahmah (Rahmat/kasih sayang) karena ia merupakan rahmat dari Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..Dia berbuat apa yang Dia kehendaki. Penamaan ini terdapat dalam 15 ayat.
Allah sendiri menamakan diri-Nya di dalam al-Qur’an sebagai Rahîm (Maha Pengasih) dalam 119 tempat, sementara sebagai Rahmân (Maha Penyayang) dalam 57 tempat. Kata Rahîm dan Rahmân merupakan derivasi dari kata Rahmah.
Dengan nama ini, dapat dilihat pada Q.,s. al-A’râf:52,203: al-An’âm:157: Yûnus:57; al-Isrâ`:82; an-Naml:77; al-Jâtsiyah:20.

15. Nûr (نور)

Allah menamai al-Qur’an dengan Nûr dalam 12 ayat di dalamnya.
Al-Qur’an adalah nur (cahaya), nur al-Haq, nur yang terang benderang dan bukti yang pasti.
Nur yang bercahaya namun tidak seperti cahaya-cahaya biasa..cahaya yang tidak pernah hilang, tidak pernah berkurang sedikitpun..cahaya yang merangi jalan orang-orang yang berjalan diatas kebenaran, orang-orang yang sesat dan kebingungan..cahaya yang dapat menyembuhkan semua penyakit; syahwat dan syubhat.

Namun alangkah sayangnya, dewasa ini hanya sedikit orang yang mau mengambil cahaya ini…Kebanyakan manusia menjauh darinya layaknya keledai yang menjauh dari singa, lalu kelelahan hingga akhirnya celaka dan terjebak ke dalam jurang nan gelap…
Sekalipun berbagai upaya musuh direkayasa untuk menghancurkan cahayanya, namun mereka tidak berhasil melakukannya.
Diantara penamaannya dengan Nûr dapat dilihat pada Q.,s. an-Nisâ`:174;al-A’râf:157; al-Mâ`idah:16; at-Taghâbun:8; asy-Syûra:52;al-Hajj:8; Ali-’Imrân:184 .

16. Nadzîr (نذير)

Allah menamai al-Qur’an dengan Nadzîr dalam 11 ayat di dalamnya.
Sementara Allah menamai Rasul-Nya, Muhammad dengan Nadzîr (pemberi peringatan) dalam 60 ayat, dan besar kemungkinan lebih dari itu. Lawannya adalah Basyîr (pemberi berita gembira) terdapat dalam lebih dari 50 ayat.

Kata Nadzîr dalam bahasa ‘Arab berasal dari kata Indzâr yang maknanya adalah pemberitahuan dan membuat rasa takut (menakut-nakuti). Artinya juga memberikan peringatan. Tidak salah lagi, bahwa al-Qur’an adalah pembawa berita gembira dan peringatan. Ia memperingatkan dari kekufuran, kesyirikan, kemunafikan, kezhaliman, hal-hal yang melampaui batas, kecurangan, dengki. Ia memperingatkan dari melalaikan kewajiban dan melakukan perbuatan yang diharamkan. Ia memperingatkan dari kemurkaan Allah, azab dan siksaan-Nya yang pedih, berhukum kepada selain hukum-Nya, khianat, makar dan sebagainya.
Mengenai penamaan ini, diantaranya dapat dilihat pada Q.,s. al-A’râf:2; Maryam:97; al-An’âm:51,19; Ibrahim:52; an-Najm:56; al-Ahqâf:12.

17. Kalâmullah (كلام الله)

Allah menamai al-Qur’an dengan Kalâm, Kalim dan Kalimât dalam 12 ayat di dalamnya. Sementara Qawl dan Kalam yang dinisbahkan dan ditetapkan sendiri oleh Allah untuk diri-Nya terdapat dalam lebih kurang 275 ayat.
Al-Qur’an adalah Kalâmullâh secara hakikatnya, bukan kalam (ucapan) selain-Nya. Ia mencakup huruf-huruf dan makna-maknanya, ia bukan makhluk dan bukan pula pembawa dusta, akan tetapi diturunkan dari Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Inilah ‘aqidah (keyakinan) Ahlussunnah wal Jama’ah dari dulu hingga sekarang yang merupakan keyakinan yang selamat, terbebas dari Tahrîf (mengadakan perubahan di dalamnya) dan Ta’thîl (Membatalkan maknanya sehingga tidak ada sama sekali).

Kalam bagi Allah merupakan sifat Dzâtiyyah dan Fi’liyyah. Dikatakan sifat Dzâtiyyah karena Kalam yang dalam makna kata benda adalah “bicara”, berasal dari Dzat-Nya, dan dikatakan Fi’liyyah karena Kalam yang dalam makna kata kerja adalah “berbicara (ber-Kalam)” merupakan Fi’l (perbuatan) Allah.
Jadi Allah Ta’ala telah dan berfirman, telah bicara dan berbicara bila Dia menghendaki dan kapan Dia menghendaki, Tidak ditanyai tentang apa yang diperbuat-Nya sementara mereka ditanyai. Dia berbicara sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Dia berfirman, “Tiada sesuatupun yang semisalnya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Dalam hal ini, tidak boleh hukumnya bertanya tentang bagaimana Allah berbicara sebagaimana tidak boleh menyerupai Kalam Allah dengan kalam seluruh makhluk-Nya, demikian juga berpendapat pada sifat-sifat Allah yang lain; Hal yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah untuk diri-Nya atau ditetapkan untuk-Nya oleh Rasul-Nya yang berupa sifat-sifat yang Agung dan sesuai dengan keagungan dan ‘izzah-Nya, maka kita wajib menetapkan demikian tanpa Tahrîf, Ta’thîl, Takyîf (mengadaptasikannya),Tamtsîl (menyerupakan) nya dengan makhluk.

Tidak boleh melakukan Ta`wîl karena ia akan menyebabkan Ta’thîl dan tidak boleh melakukan Takyîf karena ia dapat menyebabkan Tamtsîl. Jadi, tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak boleh pula kaku dan jumud.

Kaum al-Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) bersikap over dan sangat berlebih-lebihan serta melampaui batas sehingga ketika menetapkan Kalam Allah, mereka berkata “Kalamullah adalah seperti kalam (ucapan) makhluk-Nya.”

Sementara kaum al-Mu’aththilah (yang membatalkan atau meniadakan sifat kalam) seperti Mu’tazilah, justeru bersikap sebaliknya. Mereka amat kaku dan jumud sehingga mereka berkata, ‘Allah tidak berbicara dan al-Qur’an adalah makhluk.’ Sementara kaum Asyâ’irah (pengikut Abul Hasan al-Asy’ari. Sementara Abul Hasan sendiri di akhir hayatnya kembali ke ‘Aqidah Salaf sebagaimana di dalam bukunya “al-Ibânah”) mengatakan “al-Qur’an adalah ungkapan dari Kalamullah. Adapun kaum al-Kullabiyyah (pengikut ‘Abdullah bin Sa’id bin Kullab) berkata, “al-Qur’an adalah hikayat dari Kalamullah…Tentu saja semua perkataan seperti itu tidak benar dan batil.

Karenanya, Wajib menetapkannya karena Allah telah menetapkannya dan karena ia adalah sifat kesempurnaan Allah.
Untuk menegaskan hal itu, penamaan al-Qur’an dengan Kalamullah dapat dilihat pada: Q.s.,at-Tawbah:6 ; Yûnus:82 ; al-Baqarah:75 ; al-An’âm:34,115 ; asy-Syûra:24 ; al-Kahf:27.

18. Qawl (قول)

Allah menamai al-Qur’an dan memberinya sifat sebagai Qawl (perkataan/ucapan) dan Qîl (perkataan yang diucapkan) di dalam 15 ayat.
Al-Qur’an al-Karim adalah perkataan Rabb kita dan Sang Pencipta kita. Ia perkataannya yang sebenarnya, bukan perkataan siapa-siapa selain-Nya. Inilah ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, para shahabat dan Tabi’in, yaitu mengimani dan membenarkan bahwa al-Qur’an adalah perkataan Allah dan Kalam-Nya, Allah berbicara melaluinya kapan saja Dia telah menghendaki. Barangsiapa yang tidak meyakini seperti itu atau berkata selain itu, maka perkataannya adalah dusta dan batil.

Karena al-Qur’an adalah perkataan Allah, kalam, wahyu dan tanzil-Nya maka wajib beriman kepadanya, mempelajari, memahami, dan merenunginya. Kaum Muslimin wajib memberikan perhatian khusus terhadap Kitabullah yang merupakan sebab kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat kelak. Ia adalah sumber pertama di dalam syari’at, hukum-hukum dan peraturan mereka.

Diantara penamaannya dengan Qawl dapat dilihat pada: Q.s., Fushshilat:43 ; al-Mu`minûn:68 ; al-Qashash:51 ; an-Nisâ`:122 ; az-Zumar:18 ; al-Hâqqah:40 ; at-Takwîr:19.

19. Qawl Tsaqîl (قول ثقيل)

Allah menamai al-Qur’an dengan Qawl Tsaqîl (perkataan yang berat) hanya dalam satu ayat saja. Dikatakan berat, karena di dalamnya terdapat pengagungan,keindahan, kewajiban, batasan-batasan, larangan-larangan, perintah-perintah, ancaman-ancaman serta limpahan beban yang besar yang hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan bertaqwa, yang melakukan hal itu dengan sesempurnanya disertai rasa gembira dan ketenangan hati. Itu merupakan anugerah Allah yang diberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dikatakan demikian, juga karena Rasulullah mengalami hal yang sangat berat ketika turunnya wahyu. Dalam hal ini, ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha bercerita, “Sungguh aku telah melihat wahyu turun kepadanya pada suasana hari yang teramat dingin…”

Apa yang dikatakan berat ini nampaknya -wallahu a’lam- merupakan berat dalam arti yang sebenarnya. Indikasinya, bahwa onta Rasulullah terduduk ketika wahyu turun saat beliau Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam berada diatasnya. Demikian pula, ketika diwahyukan kepada beliau; pahanya yang diatas paha Zaid bin Tsabit seakan meremukkan paha Zaid.

Al-Qur’an berat artinya penuh dengan kemuliaan dan keagungan karena di dalamnya terdapat makna-makna yang agung, rahasia-rahasia yang menawan, hikmah-hikmah dan hukum-hukum, janji dan ancaman serta berita gembira dan berita yang menakutkan, perintah-perintah dan larangan-larangan, kewajiban dan batasan-batasan dan hal lainnya yang dikandung oleh al-Qur’an. Hal itu semua demi kepentingan seluruh umat manusia baik di dunia maupun kelak di akhirat.
Satu ayat disebutkan diatas sebagai penamaan al-Qur’an dengan Qawl Tsaqîl terdapat pada surat al-Muzzammil, ayat 5

20. Qawl Fashl (قول فصل)

Allah Ta’ala menamainya dengan Qawl Fashl (perkataan pemutus/pemisah) dalam satu ayat saja. Maknanya, bahwa al-Qur’an al-Karim merupakan fashl (pemutus/pemisah) antara al-Haq dan al-Bathil sebagaimana ia membedakan antara keduanya saat Allah Ta’ala menamainya Furqân.
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa al-Qur’an membedakan antara tauhid dan kesyirikan, keadilan dan kezhaliman serta kebenaran dan kebohongan.

Secara umum, al-Qur’an al-Karim adalah pemisah/pemutus antara al-Haq dan al-Bathil; ia menjelaskan al-Haq, mengajak kepadanya dan mensugestinya; ia menjelaskan al-Bathil, melarang dan memperingatkan darinya. Al-Haq amat berhak untuk diikuti dan tentunya tidak ada setelah adanya al-Haq selain al-Bathil alias yang ada hanya al-Bathil bila al-Haq lenyap.

Satu ayat yang dinamai dengan Qawl Fashl tersebut adalah surat ath-Thâriq ayat 13 . Di dalamnya menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah; huruf-huruf dan makna-maknanya.

bersambung, insyaallah..

-Ummu Shofiyyah-

Maroji’:

1. Buku “al-Hudâ Wa al-Bayân Fî Asmâ` al-Qur`ân, karya Syaikh. Shâlih bin Ibrahim al-Bulaihiy, dari hal. 147)

2.  http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=31

3. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=35

Sang Penyejuk Hati (1)

Tinggalkan komentar

خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

 

Definisi Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingannya, diturunkan pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (penutup para Nabi dan Rasul) dengan perantara Malaikat Jibril (dalil: lihat surat Asy Syu’ara ayat 193-195 dan surat An Nahl ayat 102) pada bulan Ramadhan (dalil: lihat surat Al Baqarah ayat 185) di Gua Hira sebagai mukjizat, dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak) serta mepelajarinya merupakan suatu ibadah.

 Ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali (untuk keseluruhan Al Qur’an) pada tanggal 17 Ramadhan di Gua Hira yaitu ayat 1-5 dari surat Al ‘Alaq, sedangkan ayat Al Qur’an yang terakhir kali turun (untuk keseluruhan Al Qur’an) adalah ayat 181 dari surat Al Baqarah yang turun 9 hari sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat. Sedangkan ayat tentang landasan agama yang telah sempurna sebagaimana dikatakan oleh beberapa umat muslim sebagai ayat yang terakhir diturunkan adalah tidak benar, ayat tersebuat memang turun 81 hari sebelum Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat akan tetapi ayat tersebuat adalah ayat terakhir yang turun untuk surat Al Maidah (bukan untuk Al Qur’an secara keseluruhan).

 Asbabun Nuzul

 Secara bahasa, Asbabun Nuzul berarti sebab-sebab turunnya ayat, sedangkan menurut syari’at adalah suatu kasus yang menyebabkan turunnya 1 ayat atau lebih. Mempelajari asbabun nuzul memeberikan kita beberapa faedah yaitu mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat dan mengetahui orang/kelompok yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan apabila terdapat keraguan. Cara mengetahui asbabun nuzul adalah:

  1. Dari perawinya sendiri yang meriwayatkan secara tegas ayat itu dengan syarat perawinya terpercaya.
  2. Apabila perawi menyatakan riwayatnya dengan memasukkan huruf “fa’ ta’qibiyah” yang menyatakan ‘lalu’.

Cara ayat Al Qur’an diturunkan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menerima wahyu mengalami beberapa macam cara dan keadaan, diantaranya:

  1. Malaikat memasukkan wahyu langsung ke dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada dalam kalbunya. (dalil: surat Asy Syura ayat 51).
  2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berupa seorang laki-laki
  3. Wahyu datang kepada beliau seperti bunyi lonceng, cara inilah yang amat berat dirasakan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
  4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam wujud aslinya (dalil: lihat surat An Najam ayat 13-14).

 Hikmah turunnya Al Qur’an yang berangsur-angsur

 Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari (di Mekkah dan di Madinah). Mengapa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur? berikut jawabannya:

  1. Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33, “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”
  2. Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106, “Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
  3. Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an.
  4. Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna.
    Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.

    1. Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak membiasakan diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”
    2. Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu waktu shalat. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
    3. Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah untuk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

 Ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah 

Ayat-ayat Makiyyah Ayata-ayat Madaniyyah
Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau setelah Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah.
Pada umumnya pendek ayatnya. Pada umumnya panjang ayatnya.
Pada ayat-yata Makiyyah banyak terdapat perkataan “Yaa ayyuhannas” dan sedikit sekali perkataan “Yaa Ayyuhalladzina amanu”. Pada ayat-yata Madaniyyah banyak terdapat perkataan “Yaa Ayyuhalladzina amanu” dan sedikit sekali perkataan “Yaa ayyuhannas”.
Meliputi 19/30 dari isi al Qur’an yaitu terdiri atas 86 surat (4.780 ayat). Meliputi 11/30 dari isi al Qur’an yaitu terdiri atas 28 surat (1.456 ayat).
Di dlamnya terdapat hal-hal yang mengajak kepada tauhid dan hanya beribadah kepada Allah, pengukuhan kerasulan, pengukuhan adanya kebangkitan dan pembalasan, penyebutan hari Kiamat dan kehebatannya, neraka dan adzabnya, syurga dan kelezatannya, mendebat orang-orang musyrik dan bukti-bukti kauniyyah ( alam semesta ), peletakkan dasar-dasar umum untuk pensyariatan dan akhlaq-akhlaq terpuji yang dengannya dunia tetap eksis, pembeberan kejahatan-kejahatan kaum musyrikin tentang pembunuhan, memakan harta anak yatim, penguburan anak hidup-hidup, dan semua kebiasan buruk yang ada pada mereka, Penyebutan kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai peringatan bagi kaum musyrikin agar mereka mengambil pelajaran dari perjalanan akhir para pembangkang sebelum mereka, dan juga sebagai hiburan untuk Nabi sallallahu ‘alaihi Wasallam agar bersabar dari kejahatan mereka dan agar merasa tenang bahwa beliau akan mengalahkan mereka. Didalamnya terdapat penjelasan tentang macam-macam ibadah, muamalah, hukuman had, aturan kekeluargaan, hukum waris, keutamaan jihad, hubungan kemasyarakatan, hubungan kenegaraan baik dalam situasi damai ataupun perang, kaidah-kaidah dalam hukum dan masalah-masalah pensyariatan dan penyebutan orang munafiq (kecuali surat Al Ankabut).

 

bersambung insyaallah..

-Ummu Shofiyyah-

 

Maraji’:

  1. Al Qur’an dan terjemahnya
  2. Catatan pribadi dari Dars ‘Ulumul Qur’an’
  3. http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/hikmah-turunnya-al-quran-secara-berangsur-angsur.html
  4. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=130
  5. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=128

4 yang Wajib Diketahui

Tinggalkan komentar

Wahai saudaraku muslim dan muslimah (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kalian).. Ketahuilah, kita wajib mempelajari 4 hal yaitu:

Pertama: Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal NabiNya dan mengenal agama Islam,karena tidak boleh beribadah kepada Allah tanpa dasar ilmu. Siapa saja melakukan hal demikian (beribadah kepada Allah tanpa dasar ilmu), maka akan terjerumus kedalam kesesatan dan telah menyerupai orang-orang Nasrani dalam perbuatannya ini.

Kedua: Amal, siapa saja berilmu namun tidak mengamalkannya, maka ia telah menyerupai orang-orang Yahudi. Sebab mereka itu berilmu, namun tidak mau mengamalkannya. Diantara tipu muslihat setan, ia memperdaya manusia agar tidak senang terhadap ilmu, dengan anggapan bahwa ia dimanfaakan di hadapan Allah karena kebodohannya. Ia tidak tau bahwa siapa yang memiliki kesempatan untuk belajar namun ia tidak melakukannya, maka telah tegak terhadap dirinya. Ingatlah kita atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Nuh ayat 7 (tentang kisah kaum Nuh), “Mereka memasukkan jari jemari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya ke mukanya.“, hal ini mereka lakukan tidak lain agar hujjah tidak tegak atas diri mereka.

Ketiga: Dakwah kepadanya (sesama muslim), karena para ulama dan da’i adalah pewaris para Nabi. Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat Bani Israil (dalam surat Al Maidah ayat 79) karena, “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.“, sedangkan dakwah dan ta’lim (pengajaran) merupakan fardhu kifayah, jika ada sejumlah orang yang mengerjakannya, maka yang lain tak berdosa, namun jika semua orang mengabaikannya maka berdosalah mereka.

Keempat: Sabar atas penderitaan baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan mendakwahkannya.

-Ummu Shofiyyah-

Adab-adab Penuntut Ilmu

Tinggalkan komentar

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.

 ADAB PERTAMA

Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla

Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.

Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.

ADAB KEDUA

Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain

Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.

ADAB KETIGA

Bermaksud Membela Syariat

Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.

ADAB KEEMPAT

Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf

Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.

Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.

Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)

ADAB KELIMA

Beramal Dengan Ilmu

Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”

ADAB KEENAM

Berdakwah di Jalan Allah

Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.

ADAB KETUJUH

Bersikap Bijaksana (Hikmah)

Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.

Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.

ADAB KEDELAPAN

Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu

Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.

ADAB KESEMBILAN

Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya

Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.

Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.

ADAB KESEPULUH

Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah

Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :

1. Al-Qur’an Al-Karim

Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.

2. As Sunnah yang shahihah

Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.

ADAB KESEBELAS

Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar

Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.

Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Adab-adab ini disadur dari Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi (http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/adab-adab-penuntut-ilmu.html)

Adapun untuk adab saat berlangsungnya menuntut ilmu adalah sebagai berikut:

  1. Niat ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
  2. Mendengarkan dengan baik
  3. Diam atau tidak berbicara sendiri
  4. Berusaha untuk memahami apa yang disampaikan
  5. Berusaha untuk menghafalkan
    Imam Asy-Syafi’I berkata, “Ikatlah ilmu dengan tulisan”.
  6. Berusaha niatkan untuk mengamalkannya
    Rosulullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam bersabda, “Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga ditanya tentang 4 hal, diantaraya: tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan darinya.” (HR. Turmudzi, hasan shohih)
    Abdullah bin Mas’ud berkata, “Belajarlah kalian. Belajarlah kalian. Belajarlah kalian. Apabila kalian sudah mengetahui, amalkan!”.
    Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seorang ‘alim tetap dikatakan jahil sebelum ia mengamalkan ilmunya, jika ia mengamalkannya maka barulah ia dikatakan seorang ‘alim.”
  7. Mendakwahkan
    Dalam berdakwah (mengajak pada kebaikan), kita perlu memperhatikan “Ilmu” tentang yang akan kita sampaikan, harus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar. “Orang yang akan kita dakwahi“, apakah yang lebih tua, lebih muda, berpendidikan, orang awam, dan lain-lain. “Metode/cara kita berdakwah“, hendaknya dengan hikmah dan peringatan yang baik, dengan kelembutan, dengan kasih sayang. Jadi jangan maen seruduk sana seruduk sini.

Imam Asy-Syafi’I berkata: “Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan 6 perkara: Cerdas, Semangat, Sungguh-sungguh, Modal/bekal, Menemani guru, dan Waktu yang lama.” (Diwan Asy-Syafi’i)

-Ummu Shofiyyah-

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: