خيركم من تعلّم القرآن وعلّمه

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

 

Definisi Al Qur’an

Al Qur’an adalah kalam Allah yang tiada tandingannya, diturunkan pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (penutup para Nabi dan Rasul) dengan perantara Malaikat Jibril (dalil: lihat surat Asy Syu’ara ayat 193-195 dan surat An Nahl ayat 102) pada bulan Ramadhan (dalil: lihat surat Al Baqarah ayat 185) di Gua Hira sebagai mukjizat, dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (oleh orang banyak) serta mepelajarinya merupakan suatu ibadah.

 Ayat Al Qur’an yang diturunkan pertama kali (untuk keseluruhan Al Qur’an) pada tanggal 17 Ramadhan di Gua Hira yaitu ayat 1-5 dari surat Al ‘Alaq, sedangkan ayat Al Qur’an yang terakhir kali turun (untuk keseluruhan Al Qur’an) adalah ayat 181 dari surat Al Baqarah yang turun 9 hari sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat. Sedangkan ayat tentang landasan agama yang telah sempurna sebagaimana dikatakan oleh beberapa umat muslim sebagai ayat yang terakhir diturunkan adalah tidak benar, ayat tersebuat memang turun 81 hari sebelum Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat akan tetapi ayat tersebuat adalah ayat terakhir yang turun untuk surat Al Maidah (bukan untuk Al Qur’an secara keseluruhan).

 Asbabun Nuzul

 Secara bahasa, Asbabun Nuzul berarti sebab-sebab turunnya ayat, sedangkan menurut syari’at adalah suatu kasus yang menyebabkan turunnya 1 ayat atau lebih. Mempelajari asbabun nuzul memeberikan kita beberapa faedah yaitu mengetahui bentuk hikmah rahasia yang terkandung dalam hukum suatu ayat dan mengetahui orang/kelompok yang menjadi kasus turunnya ayat serta memberikan ketegasan apabila terdapat keraguan. Cara mengetahui asbabun nuzul adalah:

  1. Dari perawinya sendiri yang meriwayatkan secara tegas ayat itu dengan syarat perawinya terpercaya.
  2. Apabila perawi menyatakan riwayatnya dengan memasukkan huruf “fa’ ta’qibiyah” yang menyatakan ‘lalu’.

Cara ayat Al Qur’an diturunkan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menerima wahyu mengalami beberapa macam cara dan keadaan, diantaranya:

  1. Malaikat memasukkan wahyu langsung ke dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada dalam kalbunya. (dalil: surat Asy Syura ayat 51).
  2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berupa seorang laki-laki
  3. Wahyu datang kepada beliau seperti bunyi lonceng, cara inilah yang amat berat dirasakan rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
  4. Malaikat menampakkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam wujud aslinya (dalil: lihat surat An Najam ayat 13-14).

 Hikmah turunnya Al Qur’an yang berangsur-angsur

 Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari (di Mekkah dan di Madinah). Mengapa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur? berikut jawabannya:

  1. Pengokohan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla pada surat Al-Furqan, ayat 32—33, “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”
  2. Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap. Berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106, “Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
  3. Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang Aisyah radhiyallahu ‘anha=) dan li’an.
  4. Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang sempurna.
    Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut, sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya secara total.

    1. Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu, surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak membiasakan diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada manfaatnya. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”
    2. Kemudian yang kedua turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat An-Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu yaitu waktu shalat. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
    3. Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‘Azza wa Jalla (yaitu surat Al-Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah untuk membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

 Ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah 

Ayat-ayat Makiyyah Ayata-ayat Madaniyyah
Ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah atau sebelum Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau setelah Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah.
Pada umumnya pendek ayatnya. Pada umumnya panjang ayatnya.
Pada ayat-yata Makiyyah banyak terdapat perkataan “Yaa ayyuhannas” dan sedikit sekali perkataan “Yaa Ayyuhalladzina amanu”. Pada ayat-yata Madaniyyah banyak terdapat perkataan “Yaa Ayyuhalladzina amanu” dan sedikit sekali perkataan “Yaa ayyuhannas”.
Meliputi 19/30 dari isi al Qur’an yaitu terdiri atas 86 surat (4.780 ayat). Meliputi 11/30 dari isi al Qur’an yaitu terdiri atas 28 surat (1.456 ayat).
Di dlamnya terdapat hal-hal yang mengajak kepada tauhid dan hanya beribadah kepada Allah, pengukuhan kerasulan, pengukuhan adanya kebangkitan dan pembalasan, penyebutan hari Kiamat dan kehebatannya, neraka dan adzabnya, syurga dan kelezatannya, mendebat orang-orang musyrik dan bukti-bukti kauniyyah ( alam semesta ), peletakkan dasar-dasar umum untuk pensyariatan dan akhlaq-akhlaq terpuji yang dengannya dunia tetap eksis, pembeberan kejahatan-kejahatan kaum musyrikin tentang pembunuhan, memakan harta anak yatim, penguburan anak hidup-hidup, dan semua kebiasan buruk yang ada pada mereka, Penyebutan kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu sebagai peringatan bagi kaum musyrikin agar mereka mengambil pelajaran dari perjalanan akhir para pembangkang sebelum mereka, dan juga sebagai hiburan untuk Nabi sallallahu ‘alaihi Wasallam agar bersabar dari kejahatan mereka dan agar merasa tenang bahwa beliau akan mengalahkan mereka. Didalamnya terdapat penjelasan tentang macam-macam ibadah, muamalah, hukuman had, aturan kekeluargaan, hukum waris, keutamaan jihad, hubungan kemasyarakatan, hubungan kenegaraan baik dalam situasi damai ataupun perang, kaidah-kaidah dalam hukum dan masalah-masalah pensyariatan dan penyebutan orang munafiq (kecuali surat Al Ankabut).

 

bersambung insyaallah..

-Ummu Shofiyyah-

 

Maraji’:

  1. Al Qur’an dan terjemahnya
  2. Catatan pribadi dari Dars ‘Ulumul Qur’an’
  3. http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/hikmah-turunnya-al-quran-secara-berangsur-angsur.html
  4. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=130
  5. http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatquran&id=128