Membaca Al-Qur`an adalah merupakan salah satu bentuk teragung dalam bertaqarrub [mendekatkan diri] kepada Allah Ta’ala dan juga merupakan jalan untuk menuju pada kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Ibnu Shalah Rahimahullah berkata, ‘Membaca Al-Qur`an adalah kemuliaan, dengan kemulian itu Allah hendak memuliakan manusia. Bahkan, malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka justru selalu berusaha mendengarkannya dari bacaan manusia.’ [Al-Itqân Fi Ulumil Qur`an oleh As-Suyûti h. 291]

 Membaca yang dapat mendatangkan kemuliaan, yang dapat mendatangkan faedah dan pahala yang besar adalah membaca dengan memperhatikan dan mengamalkan etika-etika didalam membacanya. Sedang membaca tanpa memperdulikan atau mengabaikan etika-etikanya, tidak memperhatikan aturan serta hak-haknya kemudian tidak memenuhi tuntunan-tuntunan yang terkadung didalamnya maka kelak Al-Qur`an akan menjadi bukti yang membinasakan diri kita atau menjadi musuh di hari kiamat. Rasulullah Sallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Al-Qur`an itu merupakan hujjah [bukti] yang menguntungkanmu atau merugikanmu.’[HR. Muslim 223]

Adab-adab membaca dan mempelajari Al Qur’an
      Para ulama telah mengkhususkan beberapa kitab yang membahas tentang etika membaca Al-Qur`an secara detail [Seperti kitab At-Tibyân Fi Adabi Hamlatil Qur`an karya imam An-Nawawi dan Al-Itqân Fi ‘Ulûmil Qur`an]. Akan tetapi, kami di sini hanya akan menunjukkan sebagiannya saja untuk diambil manfaatnya:

1. Ikhlash
      Ikhlash bermakna mencari ridha dan ganjaran dari Allah Ta’ala dengan meniadakan tujuan-tujuan yang lain. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah mengisahkan tiga orang yang masuk neraka karena sebab amalan mereka, diantaranya seseorang yang menutut ilmu dan membaca Al-Qur`an, pada hari akhir dia ditanya oleh Allah Ta’ala, ‘Apa yang kamu kerjakan di dunia dengan nikmat tersebut ?’ orang tersebut menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan membaca Al-Qur`an hanya karena-Mu ya Allah.’ Allah kemudian berkata, ‘Engkau dusta! Sesungguhnya engkau menuntut ilmu agar dikatakan orang alim dan engkau membaca Al- Qur’an agar dikatakan qâri (ahli membaca Al Qur’an).’ [HR. Muslim no 1905]

2. Mengamalkannya
      Al-Qur’an diturunkan bukan sekedar untuk dibaca tanpa ilmu dan amal. Ia mesti diamalkan, ia harus di jadikan petunjuk pada setiap kebajikan dan akhlak yang mulia. Fudhail bin ‘Iyyâd berkata, ‘Al-Qur`an itu diturunkan hanyalah untuk diamalkan maka hendaklah manusia menjadikan bacaan Al-Qur`an untuk diamalkan.’ [Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Akhlaq Hamlah Al-Qur`an, h. 43]. Abu Abdur Rahman As Sulami berkata, ‘Dahulu para sahabat Nabi yang mengajarkan kami Al Qur’an semisal Utsman bin Affân, Abdullah bin Mas’ud dan lainnya Radhiyallahu Anhum. Mereka jika belajar 10 ayat, tidak pindah hingga mengamalkannya, mereka mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an secara bersamaan. [Syarah Muqaddimah Tafsir hal 22 karya Syaikh Ibnu Utsaimin]
      Bahkan terdapat ancaman bagi orang yang enggan mengamalkannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab Radhiyallâhu Anhu, bahwasannya Rasulullah Sallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang laki-laki yang membawaku ke tempat Al Ardh Al Muqaddasah (diceritakan dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah mendapati peristiwa demi peristiwa-red.) hingga kami menjumpai seseorang yang dipecah kepalanya dengan batu besar……..hingga beliau bersabda, ‘kalian berdua telah membawaku berkeliling, maka jelaskanlah kepadaku peristiwa-peristiwa tersebut!’. Kedua laki-laki itu berkata :’……adapun orang yang dipecah kepalanya dengan batu besar adalah orang yang Allah ajarkan Al Qur’an, akan tetapi dia bermalas-malasan dengan tidur diwaktu malam dan tidak mengamalkannya di waktu siang’.” [HR. Al-Bukhari no 1386]

3. Merenungi Kandungan Maknanya
      Hendaklah orang yang membaca Al-Qur`an itu berkeinginan untuk memahami tuntutan Allah. Bukan berkeinginan kapan saya selesai membaca surat itu, tetapi berkeinginanlah kapan saya fokus kepada Allah? Kapan saya termasuk orang yang bertakwa? Kapan saya termasuk orang yang gemar bersedekah? Kapan saya termasuk orang yang khusyuk? Kapan saya termasuk orang yang jujur? Demikian pula, kapan saya mengerti akan nikmat Allah yang melimpah? Kapan saya bersyukur kepada-Nya? Kapan saya bertobat dari segala dosa? Kapan saya berpikir tentang perintah-perintah Allah? Kapan saya mengerti dengan yang saya baca? Kapan saya menjadikan Al-Qur`an sebagai teladan? Seperti itulah seharusnya diperbuat oleh orang-orang ketika membaca Al-Qur`an. Allah Ta’ala berfirman, ‘Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci ?” [QS. Muhammad :24]
Al-Ajurri rahimahullah berkata, ‘Orang mukmin yang berfikir jika membaca Al-Qur’an, ia berhenti sejenak; Al-Qur`an itu dijadikan laksana cermin guna melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari perbuatannya. Oleh karena itu, apa-apa yang diperingatkan oleh Rabb-nya, ia menerima peringatan itu, bila ditakuti dengan siksa, ia merasa takut, dan bila diberi kabar gembira, ia berharap serta penuh harap. Barangsiapa yang demikian ini menjadi sifatnya atau mirip sifatnya, sungguh ia telah membaca Al-Qur`an, sedang Al-Qur’an juga menjadi penolong, pelembut, dan benteng bagi dirinya. [Akhlaq Hamlah Al-Qur’an, h. 29]

4. Suci dari Hadats
      Sewaktu membaca Al-Qur`an hendaknya berada dalam keadaan suci, karena membaca Al-Qur`an adalah suatu bentuk dzikir yang paling utama. Dari Muhajir bin Qunfudz Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika beliau sedang berwudhu. Namun beliau tidak menjawab salam tersebut hingga beliau selesai wudhu, lalu Nabi menjawabnya dan bersabda, ‘Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab (salam)mu, kecuali karena saya tidak suka menyebut Allah kecuali dalam keadaan suci.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 17, Ibnu Majah 37, An-Nasai 1/34.]
      Ini dari sisi keutamaan. Namun jika ada orang yang membaca Al-Qur`an dalam keadaan tidak suci, kita tidak mengatakan bahwa orang yang melakukan hal itu telah berbuat sesuatu yang dilarang. karena tidak ada satu pun dalil yang shahih lagi sharih [jelas] yang melarang orang berhadats membaca atau menyentuh mushhaf Al-Qur`an. Hanya saja, dia telah meninggalkan sesuatu yang lebih utama.

5. Membaca Ta’awudz dan Basmalah
      Bila ingin memulai membaca, disyariatkan untuk membaca ta’awudz, ‘A’udzu Bilâhi Minas Syaithânir Rajîm.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” [QS. An Nahl : 98] Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah berkata, ‘Faidah ta’awudz yaitu agar syaithan menjauh dari hati orang yang akan membaca Al Qur’an. Dengan demikian , maka orang tersebut akan dapat memahami, memperhatikan ayat-ayatnya dan mengambil manfaat darinya, karena sudah tentu berbeda antara orang yang membaca dengan menghadirkan hati dan oarng yang membaca sedangkan hatinya lalai [Syarah mumti’ 3/371]. Dan sebaiknya selalu menjaga bacaan, ‘Bismillâhirrahmânirrahîm’ di awal bacaan setiap surat, selain surat Bara`ah [At-Taubah]

6. Tartil ketika membaca Al Qur’an
       Para ulama sepakat tentang disunnahkannya membaca Al-Qur`an dengan tartil [pelan-pelan], berdasarkan firman Allah Ta’ala , ‘Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan.’ [QS. Al Muzammil :4] Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, ‘Bacalah perlahan-lahan’ karena itu dapat membantu dalam memahami Al Qur’an dan merenunginya.’ [Tafsir Qur’an Adzim 4/392]. Ibnu Abbas berkata, ‘Membaca satu surat dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca AlQur’an seluruhnya dengan cepat.’ [At Tibyan, hal 70]

7. Memperindah dan memperbagus suara
      Disunnahkan memperindah suara dalam membaca, selagi tidak keluar dari batas bacaan dengan memanjang-manjangkannya. Apabila keluar, hingga menambahi satu huruf atau menyamarkannya, haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Bukan dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al Qur’an.’ [HR Al-Bukhari 7527]
Perlu diperhatikan bahwa memperbagus bacaan dan memperindah suara ketika membaca Al Qur’an bukan berarti mengalunkannya seperti lagu dan nyanyian. Syaikhul Islam Rahimahullah berkata, ‘Membaca Al Qur’an dengan mengalunkannya seperti lagu adalah makruh, perbuatan yang diada-adakan sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Malik , Syafi’I, Ahmad dan lainnya .’ [Adab Syar’iyah 2/302 oleh Ibnu Muflih]

8. Menangis ketika Membaca Al Qur’an atau Mendengarnya
      Imam An Nawawi Rahimahullah berkata, ‘Menangis ketika membaca Al Qur’an merupakan sifat orang yang berpengetahuan dan syi’ar hamba-hambanya yang shalih.’ [At Tibyan, hal 68]
Dari Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Rasulullah pernah berkata kepadaku, ‘Bacakanlah Al Qur’an untukku!,’ aku bertanya, ’Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakannya padahal Al Qur’an itu diturunkan kepadamu’, Rasulullah menjawab, ’benar!’, maka akupun membaca surat An Nisa’ hingga sampai pada ayat, ‘Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti) apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap ummat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.” [QS An Nisa’ :41]. Rasulullah pun berkata, ’Cukup !’ Dan aku melihat kedua matanya meneteskan air mata.’ [HR. Bukhari 5050]

9. Mengeraskan Suara
      Mengeraskan suara ketika membaca Al Qur’an lebih utama dibandingkan melirihkannya, asalkan aman dari riya’ dan tidak mengganggu orang yang ada disekitarnya. Sebab, bacaan yang keras bisa membangkitkan hati, mengukuhkan semangat dan mengarahkan pendengaran agar mau memikirkan bacaannya. Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallâm bersabda, ‘Allah tidak memperkenankan sesuatu,, yang diperkenankan kepada Nabi, (kecuali) bacaan Al-Qur`an dengan suara yang bagus lagi keras.’ [HR. Al-Bukhari 7544]

10. Tidak membaca pada situasi dan kondisi tertentu
      Dalam kondisi-kondisi tertentu seseorang tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an. Antara lain ketika sedang ruku’ dan sujud di dalam shalat. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur`an saat ruku’ dan sujud.’ [HR. Muslim]. Tidak diperbolehkan juga membaca dalam keadaan mengantuk, serta membaca pada saat mendengarkan khutbah Jumat.

11. Tidak bersenda gurau saat membaca
      Seseorang wajib memperhatikan kemulian Al-Qur`an dan keagungannya dengan tidak bermain-main pada saat membaca, semisal dengan tertawa, ramai, debat atau gurauan. Berdasarkan dengan firman Allah Ta’ala, ‘Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.’ [QS. Al-A’raf 209]

12. Sujud ketika membaca ayat Sajdah
Disunnahkan untuk sujud ketika membaca ayat-ayat sajdah, sujud ini biasa dikenal dengan nama sujud Tilawah [Tentang tempat-tempat sujud tilawah berikut dengan tatacaranya silahkan merujuk ke Buletin Al-Ikhlash edisi 23]. Kemudian hendaknya berdo’a ketika sujud tilawah dengan do’a yang diajarkan Nabi diantaranya :
سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَسَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللّهُ أَحْسَنَ الخَالِقِيْنَ .
Artinya, ‘Telah sujud wajahku kepada (Rabb) yang telah menciptakannya dan telah membuka penglihatan dan pendengarannya berkat upaya dan kekuatannya, maka Mahamulia Allah, sebaik-baik pencipta.’ [Shahih. HR. Abu Dawud 1414, At-Tirmidzi 579 dan An-Nasai 11/222]

13. Memutuskan bacaan Al-Quran
      Bila salah seorang memberi salam kepadanya, sementara orang tersebut sedang membaca, sebaiknya dia menghentikan bacaannya, lalu menjawab salam orang tersebut. Bila orang lain bersih, lalu mengucapkan, ‘Al-Hamdulillah’ sementara dia membaca diluar shalat, maka dia harus mengucapkan, ‘Rahimakallah’. Bila orang yang membaca Al-Qur`an itu mendengarkan adzan, maka dia harus menghentikan bacaannya dan menjawab adzan sang mu`adzdzin tersebut.’

14. Batas waktu menghatamkan Al Qur’an
      Mengkhatamkan Al-Qur’an disesuaikan kondisi masing-masing orang, dengan syarat tidak boleh kurang dari 3 hari, karena orang yang menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari tidak akan dapat memahaminya dan mentadabburinya. Dari Abdullah bin Amr, bahwasannya Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidak memahami makna Al-Qur`an orang yang mengkhatamkannya kurang dari tiga hari.’[Shahih. HR. Abu Dawud 1394]
Namun dalam kitab Al-Adzkar [hal.153], Imam An-Nawawi menyebutkan ada sebagian salaf yang mengkhatamkan Al-Qur`an kurang dari tiga hari, diantaranya Utsman Bin Affan, Tamim Ad-Dâri dan Sa’id bin Jubair. Tentang ini, Asy-Syaikh Al-Albâni menanggapi, ‘Adapun yang dilakukan oleh sebagian salaf yang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, tidaklah bertentangan dengan hadits yang mulia ini [yaitu hadits larangan meng-khatam kurang dari tiga hari]! karena bisa jadi hadits ini belum sampai pada mereka.’ [Ash Shahihah 5/601]

15. Ancaman bagi yang berpaling dari Al Qur’an
      Telah datang sejumlah ayat yang berisi ancaman bagi orang yang berpaling dari Al Qur’an, diantaranya, ‘Dan barang siapa yang berpaling dari peringatanku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ [QS Thoha : 124]

Bid’ah para Qâri
Diantara bid’ah yang dilakukan oleh sebagian qâri’ adalah sebagai berikut;
1. Membaca Al-Qur’an dengan melagu-lagukannya [Lihat Al-Hawâdits wal Bid’ah oleh Ath-Thurthusi h.83-89 dan lihat keterangannya pada point 7 tentang makna melagukan yang terlarang]
2. Membaca Al-Qur`an dengan berbagai bentuk lagu semisal; Bayâthi, Hijaz, Nabathi, dan Rumi. [Lihat Al-Hawâdits wal Bid’ah oleh Ath-Thurthusi h.86]
3. Membaca Al-Qur’an dengan lagu ahli fasik dan keji. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 11]
4. Membaca Al-Qur`an dengan cepat-cepar sehingga tidak dipraktikkan tajwid dan makhraj yang tepat. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 15]
5. Meletakkan jari tangan pada sebelah telinga atau keduanya saat membaca Al-Qur`an. [Bida’ Al-Qurra` oleh Bakr Abu Zaid h. 26]
6. Membaca Al-Qur`an secara bersama-sama dengan satu nada dan tempo. [Bida’ Al-Qurra` oleh Muhammad Musa hl. 38-39]
7. Membaca Al-Qur`an dihadapan laki-laki yang bukan mahram pada acara-acara tertentu. [Mu’jamul Bid’i]
8. Membaca shadaqallâhul Adzim seusai membaca Al-Qur`an [Lihat Buletin Al-Ikhlash edisi 123]

-Ummu Shofiyyah-

 

Maroji’:

http://bejanasunnah.wordpress.com/2010/12/14/adab-membaca-al-quran/